Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa tempat peredaran matahari itu
tetap ada sampai pada hari kiamat, karena sesungguhnya ketika terjadi
kiamat, matahari tetap berada ditempatnya, namun kehilangan sinarnya.
Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dzar r.a. mengatakan bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :
"Pada hari ketika matahari terbenam, ya Abu Dzar ! tahukah kamu ketika
itu matahari dimana ?" Lalu aku menjawab: "Allah dan Rasul-Nya lebih
mengetahui!" Rasulullah SAW pun berkata : "Ya Abu Dzar! Sesungguhnya
matahari itu terbenam dan pergi ke bawah 'Arasy, lalu matahari itu
meminta izin kepada Allah, agar dirinya diperkenankan sujud kepada-Nya.
Allah pun mengizinkannya. Kemudian matahari juga meminta izin agar
dirinya diperkenankan untuk terbit lagi ke dunia, karena ia melihat
banyak orang melakukan kemaksiatan dan kemungkaran."
Untuk permintaan yang ini, Allah mengizinkannya dengan berfirman :
Kembalilah kamu dari mana terbit lalu matahari itu terbit dari timur.
Maka matahari tetap terbit dan terbenam seperti biasanya, sampai
dekatnya hari kiamat.
Ketika telah dekat terjadinya hari kiamat, banyak sekali orang yang
melakukan dosa besar di muka bumi. Pada saat-saat seperti itu, kembali
matahari sujud dibawah 'Arasy semalam penuh, dan saat itulah Allah tidak
mengizinkan matahari untuk terbit lagi, serta memerintahkan bulan untuk
menemui matahari. Lalu matahari dan bulan berdiam diri disitu selama
tiga hari, sehingga menjadi amat panjanglah malam itu.
Tidak seorang pun yang mengetahui peristiwa tersebut, kecuali para ahli
tahajjud. Tiba-tiba orang-orang ahli ibadah itu merasa aneh dan heran,
karena malam terasa amat panjang dan fajar tidak terbit.
Fajar yang mereka nantikan pun tak kunjung tiba, sehingga mereka keluar
untuk melihat bintang-bintang di langit. Bintang-bintang pun tetap
seperti biasanya. Akhirnya mereka semua berkumpul semua didalam Masjid,
untuk merendahkan diri kepada Allah Subhanahu wata'ala. Mereka menangis
dengan tangisan yang sangat dahsyat, karena begitu takutnya terhadap
siksa Allah Ta'ala.
Manakala telah sempurna tiga malam, dimana pada tiga malam tersebut,
tidak satu kalipun fajar tebit, maka Allah Ta'ala memerintahkan matahari
untuk terbit dari Barat. Perlu diketahui, ketika matahari telah terbit
dari arah Barat, maka sesungguhnya kiamat benar-benar telah begitu
dekat. Sehingga menangislah matahari dan bulan. Mereka merendahkan diri
kepada Allah Ta'ala. Dari menangisnya matahari dan bulan tersebut, maka
menangis pula seluruh penghuni dunia serta penghuni langit dan tujuh
kemah besar.
Mengenai hal ini, Rasulullah pernah bersabda dalam sebuah hadits dari
Abdullah bin 'Amr bin Ash r.a. bahwasannya Nabi SAW bersabda :
"Sesungguhnya pertama-tama alamat-alamat hari kiamat yang keluar,
yaitu terbitnya matahari dari arah barat dan keluarnya binatang kepada
orang banyak di waktu dhuha. Mana saja di antara keduanya itu yang
keluar lebih dulu dari kawannya, maka yang lainnya pasti akan menyusul
sebentar kemudian". (H.R. Muslim dan Abu Daud).
Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW yang lain, yang diriwayatkan oleh
Muslim juga disebutkan, mengenai matahari yang terbit dari arah barat,
ketika hari kiamat telah dekat :
"Tiada akan terjadi kiamat, sebelum matahari terbit dari tempat
terbenamnya(barat). Apabila matahari telah terbit dari tempat
terbenamnya, manusia semuanya beriman. Maka pada waktu itu, tiadalah
iman seseorang berguna untuk dirinya yang tadinya belum pernah beriman,
juga bagi mereka yang tadinya belum berbuat baik dalam berimannya".
(H.R. Muslim).
Ketika matahari telah terbit dari arah barat, tiba-tiba ada gema suara
dari arah langit yang mengatakan "Ingatlah ! Sesungguhnya matahari telah
terbit dari arah barat !"
Manusia yang mendengar seruan itu akan menangis dan mereka merendahkan
diri kepada Allah Ta'ala. Ketika mereka melihat ke langit, mereka
melihat pemandangan yang sebelumnya belum pernah mereka temukan, mereka
melihat matahari dan bulan secara bersamaan, yang telah kehilangan
sinarnya. pada waktu itu, matahari dan bulan berkumpul pada satu tempat.
Hal ini sangat cocok dengan bunyi firman Allah Subhanahu wata'ala
sebagai berikut :
"Dan matahari dan bulan dikumpulkan."(Q.S. Al-Qiyamah: 9)
Pada waktu itu, tangis dan taubat penduduk penghuni bumi sudah tidak
bermanfaat lagi. Ketika matahari dan bulan telah sampai di tengah-tengah
langit, Allah Ta'ala memerintahkan kepada Jibril a.s. untuk mendekati
kedua pelanet itu, yakni matahari dan bulan. Kemudian Jibril terbang ke
arah matahari dan bulan dengan kedua sayapnya. Jibril memerintahkan
kepada bulan dan matahari untuk kembali ke arah barat. Sesungguhnya ini
disebabkan karena dibarat ada pintu yang dinamakan dengan pintu taubat.
Panjang pintu taubat itu sama panjangnya dengan perjalanan selama 70
tahun. Kemudian matahari dan bulan ke arah Barat untuk menuju ke pintu
tersebut, dan sejak saat itu tertutuplah pintu taubat untuk
selama-lamanya.
Setelah peristiwa itu, matahari dan bulan terbit seperti biasanya, yakni
matahari terbit dari arah Timur dan bulan terbit pada malam hari.
Begitu seterusnya, hingga kiamat tiba. Tetapi kiamat yang sesungguhnya
dengan adanya kejadian ini jaraknya sangatlah pendek. Sehingga pendeknya
jarak ini, diibaratkan dengan seekor kuda yang melahirkan anaknya, dan
anak kuda tersebut belum sampai bisa di naiki tuannya, kiamat telah
terjadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar